Mempersiapkan Diri Dalam Menyambut Bulan Ramadhan

Mempersiapkan Diri Dalam Menyambut Bulan Ramadhan
Mempersiapkan Diri Dalam Menyambut Bulan Ramadhan

Tinggal beberapa hari lagi Insya Allah kita akan memasuki bulan ramadhan, sudahkah kita mempersiapkan diri kita untuk menyambut bulan yang penuh berkah dengan maksimal?

Semoga tulisan berikut bisa menjadi inspirasi untuk mempersiapkan diri dalam menyambut bulan ramadhan sehingga kita bisa mendapat kebaikan dan keberkahan secara maksimal di bulan ramadhan dengan manjadi manusia yang bertaqwa kepada Allah ta'ala. Aamiin.

1. Berdoalah agar Allah swt. memberikan kesempatan kepada kita untuk bertemu dengan bulan Ramadan dalam keadaan sehat wal afiat. Dengan keadaan sehat, kita bisa melaksanakan ibadah secara maksimal di bulan itu, baik puasa, shalat, tilawah, dan dzikir.

Dari Anas bin Malik r.a. berkata, bahwa Rasulullah saw. apabila masuk bulan Rajab selalu berdoa, ”Allahuma bariklana fii rajab wa sya’ban, wa balighna ramadan.” Artinya, ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban; dan sampaikan kami ke bulan Ramadan. (HR. Ahmad dan Tabrani)

Para salafush-shalih selalu memohon kepada Allah agar diberikan karunia bulan Ramadan; dan berdoa agar Allah menerima amal mereka. Bila telah masuk awal  bulan Ramadhan, mereka berdoa kepada Allah, ”Allahu akbar, allahuma ahillahu alaina bil amni wal iman was salamah wal islam wat taufik lima tuhibbuhu wa tardha.” Artinya, ya Allah, karuniakan kepada kami pada bulan ini keamanan, keimanan, keselamatan, dan keislaman; dan berikan kepada kami taufik agar mampu melakukan amalan yang engkau cintai dan ridhai.

2. Bersyukurlah dan puji Allah atas karunia Ramadhan yang kembali diberikan kepada kita. Al-Imam Nawawi dalam kitab Adzkar-nya berkata, ”Dianjurkan bagi setiap orang yang mendapatkan kebaikan dan diangkat dari dirinya keburukan untuk bersujud kepada Allah sebagai tanda syukur; dan memuji Allah dengan pujian yang sesuai dengan keagungannya.” Dan di antara nikmat terbesar yang diberikan Allah kepada seorang hamba adalah ketika dia diberikan kemampuan untuk melakukan ibadah dan ketaatan. Maka, ketika Ramadan telah tiba dan kita dalam kondisi sehat wal afiat, kita harus bersyukur dengan memuji Allah sebagai bentuk syukur.

3. Bergembiralah dengan kedatangan bulan Ramadan. Rasulullah saw. selalu memberikan kabar gembira kepada para shahabat setiap kali datang bulan Ramadan, “Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah telah mewajibkan kepada kalian untuk berpuasa. Pada bulan itu Allah membuka pintu-pintu surga dan menutup pintu-pintu neraka.” (HR. Ahmad).

Salafush-shalih sangat memperhatikan bulan Ramadhan. Mereka sangat gembira dengan kedatangannya. Tidak ada kegembiraan yang paling besar selain kedatangan bulan Ramadan karena bulan itu bulan penuh kebaikan dan turunnya rahmat.

4. Rancanglah agenda kegiatan untuk mendapatkan manfaat sebesar mungkin dari bulan Ramadan. Ramadhan sangat singkat. Karena itu, isi setiap detiknya dengan amalan yang berharga, yang bisa membersihkan diri, dan mendekatkan diri kepada Allah.

5. Bertekadlah mengisi waktu-waktu Ramadan dengan ketaatan. Barangsiapa jujur kepada Allah, maka Allah akan membantunya dalam melaksanakan agenda-agendanya dan memudahnya melaksanakan aktifitas-aktifitas kebaikan. “Tetapi jikalau mereka benar terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.” [Q.S. Muhamad (47): 21]

6. Pelajarilah hukum-hukum semua amalan ibadah di bulan Ramadhan. Wajib bagi setiap mukmin beribadah dengan dilandasi ilmu. Kita wajib mengetahui ilmu dan hukum berpuasa sebelum Ramadan datang agar puasa kita benar dan diterima oleh Allah. Apabila ibadah tanpa dilandasi dengan ilmu makan amal ibadahnya akan tertolak. “Tanyakanlah kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui,” begitu kata Allah di Al-Qur’an surah Al-Anbiyaa’ ayat 7.

7. Sambut Ramadhan dengan tekad meninggalkan dosa dan kebiasaan buruk. Bertaubatlah secara benar dari segala dosa dan kesalahan. Ramadan adalah bulan taubat. “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung.” [Q.S. An-Nur (24): 31]

8. Siapkan jiwa dan ruhiyah kita dengan bacaan yang mendukung proses tadzkiyatun-nafs. Hadiri majelis ilmu yang membahas tentang keutamaan, hukum, dan hikmah puasa. Sehingga secara mental kita siap untuk melaksanakan ketaatan pada bulan Ramadan.

9. Siapkan diri untuk berdakwah di bulan Ramadhan dengan:
· buat catatan kecil untuk kultum tarawih serta ba’da sholat subuh dan zhuhur.
· membagikan buku saku atau selebaran yang berisi nasihat dan keutamaan puasa.

10. Sambutlah Ramadhan dengan membuka lembaran baru yang bersih. Kepada Allah, dengan taubatan nashuha. Kepada Rasulullah saw., dengan melanjutkan risalah dakwahnya dan menjalankan sunnah-sunnahnya. Kepada orang tua, istri-anak, dan karib kerabat, dengan mempererat hubungan silaturrahmi. Kepada masyarakat, dengan menjadi orang yang paling bermanfaat bagi mereka. Sebab, manusia yang paling baik adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.

Ditulis Oleh Gatot Koco
Editor Oleh Antoni CLianto 

Maafkanlah orang yang telah menyakiti kita

motivasi, inspirasi cinta

Ketika ada seseorang yang dengan sengaja mengkhianati kita di masa lalu.
Ketika dia datang kembali untuk meminta maaf.
Maka tak ada alasan bagi kita untuk tidak memaafkannya.

Berhentilah memikirkan orang-orang yang telah mengecewakan kita.
Berhentilah berharap kepada orang-orang yang telah dengan sengaja menyakiti kita.
Karena itu hanya akan membuat banyak waktu kita terbuang percuma.

Tak perlu bersusah payah untuk membalas dendam, cukup maafkan setiap kesalahan karena memaafkan adalah pembalasan yang terbaik.

Yakinlah......

Allah pasti punya alasan kenapa dia tidak berada bersama kita di masa sekarang.
Allah pasti punya rencana kenapa dia tidak berada bersama kita di masa depan.

Akan ada waktunya kapan Allah akan memberi pengganti untuk kita.
Seseorang yang lebih baik dibandingkan dia yang telah hilang dari genggaman kita.

Palu Menghancurkan Kaca Tetapi Palu Membentuk Baja

pepatah, motivasi, makna kata

Apa makna dari pepatah diatas

Jika jiwa kita rapuh seperti kaca, maka ketika palu atau masalah menghantam, kita akan mudah putus asa, frustasi, kecewa, marah, dan jadi remuk redam. Jika kita adalah kaca, maka kita juga rentan terhadap benturan, mudah tersinggung, kecewa, marah, atau sakit hati saat kita berhubungan dengan orang lain. Sedikit benturan saja, sudah lebih dari cukup untuk menghancurkan hubungan kita.

Jadi, jangan pernah menjadi kaca, tapi jadilah baja. Mental baja adalah mental yang selalu positif, bahkan tetap bersyukur di saat masalah dan keadaan yang benar-benar sulit tengah menghimpit.

Mengapa begitu...... 

Orang yang seperti ini selalu menganggap bahwa “masalah adalah proses kehidupan untuk membentuknya menjadi lebih baik”. Sepotong besi baja akan menjadi sebuah alat yang lebih berguna setelah lebih dulu ditempa dan dibentuk dengan palu. Setiap pukulan memang menyakitkan, namun mereka yang bermental baja selalu menyadari bahwa itu baik untuk dirinya.

Jika hari ini kita sedang dilanda masalah hidup, jangan pernah merespons dengan sikap yang keliru!

Jika kita adalah BAJA, kita akan selalu melihat palu yang menghantam kita sebagai sahabat yang akan membentuk kita. Sebaliknya jika kita KACA maka kita akan selalu melihat palu sebagai musuh yang akan menghancurkan kita.

40 Keistimewaan Wanita Menurut Islam

Keistimewaan Wanita Menurut Islam, do’a wanita lebih makbul daripada do’a pria karena sifat penyayang seorang wanita yang lebih kuat daripada pria. Ketika ditanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam akan hal tersebut, jawab baginda: “Ibu (wanita) lebih penyayang daripada bapak (pria) dan do’a orang yang penyayang tidak akan sia-sia.”

40 Keistimewaan Wanita Menurut Islam


Berikut adalah 40 Keistimewaan Wanita Menurut Islam :

1. Wanita yang sholehah (baik) itu lebih baik daripada 70 orang pria yang sholeh.

2. Barang siapa yang menggembirakan anak perempuannya, derajatnya seumpama orang yang senantiasa menangis karena takut Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan orang yang takut Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan diharamkan api neraka ke atas tubuhnya.

3. Barang siapa yang membawa hadiah (barang makanan dari pasar ke rumah) lalu diberikan kepada keluarganya, maka pahalanya seperti bersedekah. Hendaklah mendahulukan anak perempuan daripada anak pria. Maka barang siapa yang menyukakan anak perempuan seolah-olah dia memerdekakan anak Nabi Ismail ‘alaihi sallam.

4. Wanita yang tinggal bersama anak-anaknya akan tinggal bersama aku (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) di dalam syurga.

5. Barang siapa mempunyai tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan atau dua anak perempuan atau dua saudara perempuan, lalu dia bersikap ihsan dalam pergaulan dengan mereka dan mendidik mereka dengan penuh rasa taqwa serta bertanggungjawab, maka baginya adalah syurga.

6. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, “Barang siapa yang diuji dengan sesuatu dari anak-anak perempuannya, lalu dia berbuat baik kepada mereka, maka mereka akan menjadi penghalang baginya dari api neraka.”

7. Syurga itu di bawah telapak kaki ibu.

8. Apabila memanggil akan engkau dua orang ibu bapamu, maka jawablah panggilan ibumu dahulu.

9. Wanita yang taat berkhidmat kepada suaminya akan tertutup pintu-pintu neraka dan terbuka pintu-pintu syurga. Masuklah dari pintu manapun yang dia kehendaki dengan tidak dihisab.

10. Wanita yang taat akan suaminya, semua ikan-ikan dilaut, burung di udara, malaikat di langit, matahari dan bulan, semuanya beristighfar baginya selama dia taat kepada suaminya dan saudara suaminya (serta menjaga sholat dan puasanya).

11. Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, siapakah yang lebih besar haknya terhadap wanita?” Jawab baginda, “Suaminya.” “Siapa pula berhak terhadap pria?” tanya Aisyah kembali, Jawab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam “Ibunya.”

12. Perempuan apabila sholat lima waktu, puasa pada bulan Ramadan, memelihara kehormatannya serta taat pada suaminya, masuklah dia dari pintu syurga mana saja yang dia kehendaki.

13. Tiap perempuan yang menolong suaminya dalam urusan agama, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala memasukkan dia ke dalam syurga lebih dahulu daripada suaminya (10.000 tahun).

14. Apabila seseorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya, maka beristighfarlah para malaikat untuknya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala mencatatkan baginya setiap hari dengan 1.000 kebaikan dan menghapuskan darinya 1.000 kejahatan.

15. Apabila seseorang perempuan mulai sakit hendak bersalin, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala mencatatkan baginya pahala orang yang berjihad pada jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

16. Apabila seseorang perempuan melahirkan anak, keluarlah dia dari dosa-dosa seperti keadaan ibunya melahirkannya.

17. Apabila telah lahir (anak) lalu disusui, maka bagi ibu itu setiap satu tegukan daripada susunya diberi satu kebajikan.

18. Apabila semalaman (ibu) tidak tidur dan memelihara anaknya yang sakit, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberinya pahala seperti memerdekakan 70 orang hamba dengan ikhlas untuk membela agama Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

19. Seorang wanita sholehah adalah lebih baik daripada 70 orang wali.

20. Seorang wanita yang jahat adalah lebih buruk daripada 1.000 pria yang jahat.

21. 2 rakaat sholat dari wanita yang hamil adalah lebih baik daripada 80 rakaat sholat wanita yang tidak hamil.

22. Wanita yang memberi minum air susu ibu (asi) kepada anaknya dari badannya (susu badannya sendiri) akan dapat satu pahala dari pada tiap-tiap titik susu yang diberikannya.

23. Wanita yang melayani dengan baik suami yang pulang kerumah di dalam keadaan letih akan mendapat pahala layaknya berjihad.

24. Wanita yang melihat suaminya dengan kasih sayang dan suami yang melihat istrinya dengan kasih sayang akan dipandang Allah dengan penuh rahmat.

25. Wanita yang menyebabkan suaminya keluar dan berjuang ke jalan Allah dan kemudian menjaga adab rumah tangganya akan masuk syurga 500 tahun lebih awal daripada suaminya, akan menjadi pemimpin 70.000 malaikat dan bidadari dan wanita itu akan dimandikan di dalam syurga, dan menunggu suaminya dengan menunggang kuda yang dibuat daripada yakut.

26. Wanita yang tidak cukup tidur pada malam hari karena menjaga anak yang sakit akan diampunkan oleh Allah akan seluruh dosanya dan bila dia menghibur hati anaknya Allah memberi 12 tahun pahala ibadah.

27. Wanita yang memerah susu binatang dengan “bismillah” akan dido’akan oleh binatang itu dengan do’a keberkahan.

28. Wanita yang menguli tepung gandum dengan “bismillah”, Allah akan berkahkan rezekinya.

29. Wanita yang menyapu lantai dengan berzikir akan mendapat pahala seperti meyapu lantai di baitullah.

30. Wanita yang hamil akan dapat pahala berpuasa pada siang hari.

31. Wanita yang hamil akan dapat pahala beribadah pada malam hari.

32. Wanita yang bersalin akan mendapat pahala 70 tahun sholat dan puasa dan setiap kesakitan pada satu uratnya Allah mengaruniakan satu pahala haji.

33. Sekiranya wanita mati dalam masa 40 hari selepas bersalin, dia akan ditimbang sebagai mati syahid.

34. Jika wanita melayani suami tanpa khianat akan mendapat pahala 12 tahun sholat.

35. Jika wanita menyusui anaknya sampai cukup tempo (2 tahun), maka malaikat-malaikat dilangit akan menyampaikan berita bahwa syurga wajib baginya.

36. Jika wanita memberi susu badannya kepada anaknya yang menangis, Allah akan memberi pahala satu tahun sholat dan puasa.

37. Jika wanita memijat suami tanpa disuruh akan mendapat pahala 7 tola emas dan jika wanita memijat suaminya tapi atas suruhannya akan mendapat pahala 7 tola perak.

38. Wanita yang meninggal dunia dengan keredhaan suaminya akan memasuki syurga.

39. Jika suami mengajarkan istrinya satu masalah akan mendapat pahala 80 tahun ibadah.

40. Semua orang akan dipanggil untuk melihat wajah Allah di akherat, tetapi Allah akan datang sendiri kepada wanita yang menutup auratnya yaitu yang memakai purdah di dunia ini dengan istiqomah.

Wallahua’lam bish Shawwab.

7 Golongan Yang Dilindungi Oleh Allah SWT Dari Panas Matahari di Padang Mahsyar

 Di hari akhir nanti, tepatnya pada saat kita semua dikumpulkan di padang Mahsyar, tidak ada lagi penolong bagi kita kecuali Allah SWT dan syafaat Rasulullah SAW. Kita semua tidak tahu bagaimana keadaan kita semua di sana nantinya, Dikatakan pula bahwa di padang Mahsyar jarak antara kita dengan matahari hanya “sejengkal”. Tidak bisa dibayangkan bukan, matahari yang sekarang berjarak ratusan juta kilometer saja kita sudah merasakan panas yang luar biasa, apalagi kalau sampai hanya satu jengkal, pasti luar biasa panasnya. Namun, sebagai seorang muslim kita jangan takut duluan terhadap hal itu, karena nantinya akan ada 7 golongan yang dilindungi oleh Allah SWT dari panas matahari yang luar biasa di Padang Mahsyar adalah golongan-golongan itu disebutkan di dalam hadits Rasulullah SAW yang berbunyi sebagai berikut :


“Ada 7 golongan manusia yang akan dinaungi oleh Allah di bawah naungan-Nya. Pada hari itu, tidak ada naungan, kecuali nanungan Allah. Golongan tersebut adalah pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh di dalam beribadah kepada Allah, seseorang yang hatinya senantiasa terpaut dengan masjid-masjid, dua orang yang saling mengasihi karena Allah, mereka bertemu dan berpisah karena Allah, seorang laki-laki yang diundang oleh seorang perempuan yang berkedudukan dan berwajah elok (untuk melakukan kejahatan) tetapi dia berkata : (Aku takut kepada Allah), seorang yang memberi sedekah, tetapi dia merahasiakannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya, dan seorang yang mengingat Allah di kala sendirian sehingga menetes air matanya.” (HR Bukhori)

Dari hadits di atas, berikut adalah penjelasan lebih lanjutnya :

  • Pemimpin yang adil
Pemimpin atau khalifah adalah seseorang yang diberi amanah dan tanggung jawab untuk mengurusi umat atau rakyatnya. Menjadi seorang pemimpin bukanlah hal yang mudah, karena kita harus memperhatikan dengan benar syariat Islam yang berhubungan dengan kepemimpinan agar dapat menjadi pemimpin yang baik, bukan pemimpin yang zalim. Hal yang selalu dituntut dari seorang pemimpin adalah keadilan. Bagaimana ia bisa berlaku adil terhadap kaum atau rakyatnya, sehingga semua rakyatnya dapat hidup dengan sejahtera, aman, dan tidak merasakan adanya ketidakadilan. Rasulullah SAW adalah seorang teladan yang sangat luar biasa sebagai khalifah, beliau dapat memimpin kaumnya dengan bijaksana dan penuh keadilan, itulah yang seharusnya di contoh oleh seorang pemimpin terutama di masa sekarang ini. Apabila seorang pemimpin dapat berlaku adil terhadap rakyatnya, maka Insya Allah, Allah akan memberikan naungan kepadanya di yaumul Akhir nanti. 
  • Pemuda Yang Senantiasa Beribadah Kepada Allah SWT
Masa muda adalah masa yang paling berpengaruh dalam kehidupan kita kedepannya. Pada masa ini kita sudah harus bersiap merancang masa depan kita. Masa ini adalah masa di mana seseorang biasanya masih labil namun di masa inilah kita memiliki energi dan stamina yang bisa dibilang sangat fit dan penuh. Namun sangat disayangkan, sekarang ini anak-anak muda banyak yang melupakan jati diri mereka sebagai seorang makhluk ciptaan Allah SWT yang lemah dan tidak berdaya apa-apa tanpa-Nya. Anak muda banyak menghabiskan waktu mereka hanya untuk hal-hal duniawi yang tidak ada manfaatnya sama sekali, bahkan hanya menimbulkan kemaksiatan dan kedurhakaan kepada Allah SWT. Padahal, seharusnya di masa ini kita harus memaksimalkan diri kita untuk beribadah kepada Allah SWT dengan energi pemuda yang fit itu karena tidak ada yang tahu kapan kita akan dipanggil oleh Allah SWT. Pemuda seperti inilah yang akan mendapatkan naungan oleh Allah SWT.
  • Seseorang Yang Hatinya Terpaut Dengan Masjid-masjid
Masjid adalah Baitullah atau rumah Allah. Masjid merupakan tempat beribadah yang seharusnya menjadi tempat favorit kita dibandingkan dengan tempat-tempat yang lain. Pada saat adzan berkumandang, hendaknya kita segera mengambil air wudhu dan pergi ke masjid untuk menunaikan shalat berjamaah karena banyak sekali hikmah di balik itu semua. Karena sesungguhnya shalat berjamaah di masjid merupakan sesuatu yang wajib bagi muslim laki-laki, sedangkan bagi muslim perempuan lebih utama shalat di rumah. Mungkin banyak orang yang beranggapan bahwa masjid adalah tempat ibadah yang hanya dijadikan tempat untuk shalat semata. Padahal masjid juga bisa dijadikan tempat yang lebih dari sekedar tempat ibadah. Ingat saja pada zaman Rasulullah SAW, masjid pada saat itu bukan hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat pendidikan, tempat penyusunan strategi perang, sebagai tempat pengobatan, sebagai tempat tinggal dan bahkan sebagai penjara. Banyak sekali bukan manfaat dari masjid atau mushola. Oleh karena itu, hendaknya mulai sekarang kita membiasakan diri pergi ke masjid dan menjadikan masjid sebagai rumah kedua bagi kita, dengan begitu maka hati kita akan senantiasa merasa rindu dengan masjid-masjid.
  • Dua Orang Yang Saling Mengasihi Karena Allah SWT
Dua orang yang saling mengasihi karena Allah juga merupakan salah satu golongan yang mendapat naungan dari Allah SWT. Mereka saling mengasihi bukan karena kelebihan yang mereka miliki, namun mereka saling mengasihi karena Allah SWT. Mereka bertemu dan berpisah karena Allah SWT. Namun, sekarang banyak sekali orang yang mengasihi orang lain bukan karena Allah SWT, namun karena kecantikan atau ketampanannya, karena hartanya, atau karena kedudukannya. Hal ini adalah hal yang tidak dibenarkan dalam Islam. Kasih yang hakiki di dalam Islam adalah mengasihi karena Allah SWT.
  • Seorang Laki-laki Yang Menolak Ajakan Perempuan Untuk Berzina
Golongan yang satu ini mungkin adalah golongan yang paling langka dan jarang sekali di temukan, apalagi pada zaman sekarang ini. Bagaimana tidak, karena seorang wanita dapat membutakan mata hati seorang lelaki. Apabila ada seorang wanita yang cantik, kaya, dan memiliki kedudukan, lalu ia mengajak seorang lelaki untuk melakukan perbuatan yang dimurkai Allah SWT tetapi sang lelaki menolak, dan ia mengatakan aku takut kepada Allah SWT, maka lelaki ini adalah salah seorang yang akan di berikan naungan oleh Allah SWT di padang Mahsyar. Kisah ini dapat kita pelajari dari kisah Nabi Yusuf AS.
  • Seseorang Yang Bersedekah Secara Sembunyi-Sembunyi
Sedekah adalah amal yang sangat besar pahala dan manfaatnya. Allah SWT menjanjikan kepada kita semua bahwa apabila kita bersedekah satu kali, maka Allah akan membalasnya sepuluh kali dari apa yang kita sedekahkan. Maka dari itu, orang yang bersedekah tidak akan jatuh miskin karena dengan bersedekah harta kita bukannya berkurang, namun justru terus bertambah. Namun, sedekah yang baik adalah diawali dengan niat yang baik pula, yaitu dengan mengharap ridho Allah, jangan dampai kita bersedekah hanya untuk dilihat oleh orang lain, dan memperlihatkan apa yang kita sedekahkan, karena hal itu sudah menyalahi syariat dan sedekahnya tidak akan diterima oleh Allah SWT. Oleh karena itu, sedekah yang paling baik adalah sedekah dengan sembunyi-sembunyi sampai-sampai diisyaratkan hingga tangan kiri kita tidak mengetahui apa yang disedekahkan tangan kanan kita.
  • Seseorang Yang Berdzikir Kepada Allah Hingga Menangis
Golongan terakhir yang akan mendapat naungan Allah SWT adalah orang yang senantiasa berdzikir menyebut namanya di kala sendiri hingga meneteskan air mata. Ia menyadari betul akan kebesaran Allah SWT dan mengingat dosa-dosa yang telah dilakukannya. Ia berdzikir dengan ikhlas dan penuh harap kepada Allah SWT. Oleh karena itu, hendaknya kita selalu berdzikir mengingat Allah SWT dan menyesali dosa-dosa yang telah kita lakukan kepada Allah SWT.

Semoga kita salah satu dari sekian banyak orang yang mendapatkan naungan Allah SWT di padang masyar kelak.

Tidak ada yang mustahil jika Anda memiliki kemampuan untuk berhasil

quote, motivasi, inspirasi

Everything is possible
your dreams
your ideas
your vision
Never let anyone tell you
"you can't"

Tidak ada yang mustahil jika Anda memiliki kemauan untuk berhasil, percaya pada diri sendiri bahwa Anda bisa melakukannya! Tunjukkan pada orang lain bahwa Anda adalah pemenang, terutama bagi mereka yang berpikir Anda tidak bisa.

Keutamaan Dan Amalan-Amalan Bulan Sya'ban

Keutamaan Dan Amalan-Amalan Bulan SYA’BAN
  • Pengertian Sya’ban
Menurut Ibnu Manzhur dalam Lisanul ArabSya’ban berasal dari kata asy-sya’b yang berarti mengumpulkan, memisahkan / berpisah (al-jam’u wat tafriq). Dinamakan bulan Sya’ban, karena orang-orang pada bulan tersebut biasa berpisah, bertebaran untuk mencari air. Menurut pendapat lain, dinamakan Sya’ban, karena pada bulan tersebut orang-orang berkumpul untuk melakukan penyerangan-penyerangan, setelah pada bulan sebelumnya (bulan Rajab) mereka tidak melakukan peperangan karena berada dalam Bulan Haram.
Menurut Imam Tsa’lab, disebut Sya’ban, karena bulan tersebut berada di antara bulan Rajab dan Ramadhan (sya’aba ai zhahara baina syahrai, Ramadhan wa Rajab). Hanya saja, menurut Ibnu Hajar dalam Fathul Baary-nya, pendapat pertama lebih kuat dan lebih tepat.  Bentuk jamak (plural) dari Sya’ban adalah sya’baanaat, atau sya’aabiin.
  • Keutamaan Bulan Sya’ban
Ada beberapa keutamaan dari bulan Sya’ban, di antaranya adalah:
1.      Bulan diangkatnya catatan amal perbuatan manusia setiap tahunnya.
Catatan perbuatan manusia diangkat dan disetorkan oleh para malaikat kepada Allah dalam tiga waktu; ada yang sifatnya harian, mingguan dan tahunan. Yang sifatnya harian, adalah setiap pagi dan petang sebagaimana disebutkan dalam hadits di bawah ini:
عن أبي موسى الأشعري قال: قام فينا رسول الله صلى الله عليه وسلم بخمس كلمات, فقال: ((إن الله لا ينام, ولا ينبغي له أن ينام, يخفض القسط ويرفعه, يرفع إليه عمل الليل فبل النهار, وعمل النهار قبل الليل, حجابه النور….)) [رواه مسلم]
Artinya: “Abu Musa al-Asy’ari berkata, Rasulullah saw pernah menyampaikan lima kalimat, Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak tidur, dan Allah tidak layak untuk tidur, Dia merendahkan dan meninggikan pertimbangan perbuatan manusia, amal perbuatan manusia malam hari diangkat dan disetorkan kepadaNya sebelum siang hari, dan amal perbuatan siang hari diangkat dan disetorkan kepadaNya sebelum malam hari tiba, penghalangNya berupa cahaya….” (HR. Muslim).
Kapan sebelum malam dan sebelum siang sebagaimana tertera dalam hadits di atas itu? Dalam sebuah hadits di bawah ini, Rasulullah saw lebih tegas lagi, bahwa yang dimaksud sebelum siang dan sebelum malam tersebut adalah waktu shalat Shubuh dan Ashar. Rasulullah saw bersabda:
عن أبي هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((يتعاقبون فيكم ملائكة بالليل, وملائكة بالنهار, فيجتمعون في صلاة الصبح, وصلاة العصر, فيسأل الذين باتوا فيكم, وهو أعلم: كيف تركتم عبادي؟ فيقولون: أتيناهم وهم يصلون, وتركناهم وهم يصلون)) [متفق عليه]
Artinya: “Abu Hurairah berkata, Rasulullah saw bersabda: “Kalian akan selalu diawasi oleh malaikat malam dan siang, mereka akan berkumpul pada waktu shalat Shubuh dan Ashar. Allah—dan Dia Maha Mengetahui—akan menanyakan orang-orang yang ditinggalkan saat itu: “Bagaimana kalian wahai para malaikat meninggalkan hamba-hambaKu?” Para malaikat menjawab: “Kami mendatangi mereka, dan mereka sedang sholat, demikian juga kami meninggalkan mereka, mereka pun sedang sholat juga” (HR. Bukhari Muslim).
Oleh karena itu, Rasulullah saw menganjurkan untuk membaca dzikir pagi (setelah shalat Shubuh) dan dzikir  sore (setelah Ashar) mengingat pada kedua waktu tersebut catatan manusia disetorkan oleh para malaikat kepada Allah swt, dan karena itu juga Rasulullah saw menegaskan orang yang melakukan shalat Ashar dan Shubuh berjamaah akan mendapatkan pahala yang sangat besar. Hal ini sekali lagi, karena kedua waktu tersebut bertepatan dengan saat diangkat dan disetorkannya amal perbuatan manusia kepada Allah.
Imam ad-Dhahak, seorang tabi’in, sebagaimana dikutip oleh Ibnu Rajab dalam Lathaiful Ma’rif, apabila sore hari tiba, ia menangis tersedu-sedu sambil berkata: “Saya tidak mengetahui, amal saya yang mana yang diangkat dan disetorkan kepada Allah.”

Adapun waktu penyetoran amal perbuatan mansuia kepada Allah yang sifatnya mingguan, adalah setiap hari Senin dan Kamis, sebagaimana disebutkan dalam hadits di bawah ini:
سأل أسامة بن زيد رسول الله صلى الله عليه وسلم عن صيامه الإثنين والخميس, فقال صلى الله عليه وسلم: ((ذانك يومان تعرض فيهما الأعمال على رب العالمين, وأحب أن يعرض عملى وأنا صائم)) [رواه النسائى وأحمد والبيهقى)
Usamah bin Zaid pernah bertanya kepada Rasulullah saw tentang puasa Senin dan Kamis, beliau menjawab: "Dua hari itu adalah hari dimana amal perbuatan akan ditunjukkan (disetorkan) kepada Allah, dan saya menginginkan ketika amal saya disetorkan kepada Allah, keadaan saya sedang berpuasa" (HR. Nasai, Ahmad dan Baihaki).
Karena itu, lagi-lagi puasa yang dilakukan pada hari Senin dan Kamis pahalanya sangat luar biasa, dan karenanya pula Rasulullah saw tidak pernah meninggalkan puasa di kedua hari tersebut sebagaimana disebutkan dalam hadits di bawah ini:
عن عائشة قالت: ((كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يتحرى صوم الإثنين والخميس)) [رواه الترمذى والنسائى وابن ماجه]
Artinya: “Siti Aisyah berkata: “Rasulullah saw selalu berpuasa pada hari Senin dan Kamis” (HR. Turmudzi, Nasai dan Ibn Majah).
Imam Ibrahim an-Nakha’i, apabila hari Kamis tiba, ia selalu menangis kepada isterinya, dan isterinya pun menangis kepadanya sambil berkata: “Hari ini, amal perbuatan kita disetorkan kepada Allah”.
Sementara waktu penyetoran buku catatan manusia kepada Allah yang sifatnya tahunan, adalah pada bulan Sya’ban. Rasulullah saw dalam hal ini bersabda:
عن أسامة بن زيد قال: قلت: يا رسول الله, رأيتك تصوم فى شعبان صوما لا تصومه فى شيئ من الشهور إلا فى شهر رمضان, قال: ((ذاك شهر يغفل الناس عنه بين رجب وشهر رمضان, ترفع فيه أعمال الناس, فأحب أن لا يرفع عملى إلا وأنا صائم)) [رواه النسائى وصححه الألبانى فى صحيح سنن النسائى]
Artinya: “Usamah bin Zaid berkata: “Saya berkata kepada Rasulullah saw: “Ya Rasulullah, saya melihat anda banyak melakukan puasa pada bulan Sya’ban ini. Padahal anda tidak melakukan puasa satu bulan penuh melainkan pada bulan Ramadhan”. Rasulullah saw bersabda: “Ini adalah bulan di mana orang-orang umumnya lalai yaitu bulan di antara Rajab dan Ramadhan (maksudnya bulan Sya’ban=pent) di mana pada bulan Sya’ban itu amal perbuatan manusia diangkat. Maka aku sangat menginginkan sekali tidak diangkat amal perbuatanku melainkan aku sedang berpuasa” (HR. Nasai dan hadits ini dipandang Hadits Shahih oleh Syaikh Albani dalam bukunya Shahih Sunan an-Nasa’i).
Karena itu juga, Rasulullah saw senantiasa memperbanyak puasa pada bulan Sya’ban, bahkan dalam sebuah hadits disebutkan, beliau puasa satu  bulan penuh, disambung dengan bulan Ramadhan (HR. Bukhari). Sekali lagi, semua itu karena bulan Sya’ban adalah bulan mulia, di mana buku catatan amal manusia disetorkan oleh para malaikat kepada Allah setiap tahunnya.
2.      Bulan Sya’ban bulan penentuan ajal manusia
Dalam hadits di bawah ini disebutkan, bahwa ajal manusia untuk satu tahun ke depan ditentukan pada bulan Sya’ban. Dan tidak semata-mata Allah memilih bulan Sya’ban melainkan karena bulan tersebut mempunyai keistimewaan tersendiri. Rasulullah saw dalam hal ini bersabda:
عن عائشة قالت: كان أكثر صيام رسول الله صلى الله عليه وسلم في شعبان, فقلت: يا رسول الله, أرى أكثر صيامك في شعبان, قال: ((إن هذا الشهر يكتب فيه لملك الموت من يقبض, فأنا لا أحب أن ينسخ اسمي إلا وأنا صائم)) [رواه أبو يعلى]
Artnya: “Aisyah berkata: “Puasa sunnat yang paling banyak dilakukan oleh Rasulullah saw dalam  adalah puasa pada bulan Sya’ban. Saya lalu bertanya: “Ya Rasulullah, saya melihat Anda paling banyak berpuasa pada bulan Sya’ban”. Rasulullah saw menjawab: “Pada bulan Sya’ban ini malaikat pencabut nyawa menulis siapa saja yang akan dicabut pada tahun depan, dan saya tidak menginginkan ketika nama saya ditulis melainkan saya dalam keadaan berpuasa” (HR. Abu Ya’la).

Imam Ibnu Rajab dalam Lathaiful Ma’arif (hal 194) menyampaikan komentar para ulama berkaitan dengan validitas hadits di atas. Sebagian ulama, menututnya, menghukumi hadits tersebut sebagai Hadits Mursal, dan yang lain menilainya sebagai Hadits Shahih. Hadits Mursal dengan beberapa persyaratan diterima oleh Imam Syafi’i dan juga madzhab Syafi’i termasuk para ulama lainnya. Ini artinya, sekalipun hadits di atas dinilai Mursal, masih dapat diamalkan, mengingat sebagian besar para ulama menerima dan mengamalkan Hadits Mursal.
Terlebih apabila mengambil penilaian sebagian ulama lainnya yang menilai hadits di atas sebagai Hadits Shahih, tentu sudah jelas dapat diamalkan.
Dalam hadits Mursal lainnya, disebutkan:
عن عثمان ين مغيرة بن الأخنس أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: ((تقطع الآجال من شعبان إلى شعبان حتى إن الرجل ينكح ويولد له ولقد خرج اسمه فى الموتى)) [رواه الطبرانى, والبيهقى وقال ابن كثير فى تفسيره: والحديث مرسل]
 Artinya: “Dari Utsman bin Mugirah bin al-Akhnas, bahwasannya Rasulullah saw bersabda: “Jatah umur, ajal seseorang itu dapat dihapus dari bulan Sya’ban ke bulan Sya’ban yang lain, sehingga seseorang bisa menikah, melahirkan, padahal namanya sudah tercantum dalam daftar orang-orang yang dicabut nyawanya (orang-orang mati)” (HR. Thabrani, Baihaki. Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan bahwa hadits tersebut adalah hadits Mursal).
      Hadits kedua ini—dan masih banyak hadits-hadits lainnya—menjadi penguat keberadaan hadits-hadits lainnya, sehingga dapat dikatakan bahwa hadits-hadits yang berbicara bahwa bulan Sya’ban merupakan bulan penentuan ajal manusia setahun ke depan adalah hadits-hadits yang dapat diamalkan dan dapat dipertanggungjawabkan validitasnya.
3.      Bulan Sya’ban adalah bulan yang sering dilalaikan orang-orang pada umumnya.
Dalam hadits sebagaimana telah disebutkan di atas, Rasulullah saw menegaskan alasan mengapa beliau sering berpuasa pada bulan Sya’ban, di antaranya adalah karena bulan Sya’ban ini bulan  yang banyak dilalaikan oleh manusia pada umumnya. Dan waktu yang umumnya dilalaikan, berat dilakukan oleh sebagian besar manusia, menunjukkan waktu itu mulia, dan apapun ibadah yang dilakukan pada waktu tersebut pahalanya lebih besar dari pada waktu-waktu lainnya.

Karena itu, mengapa shalat Tahajud lebih besar dan lebih utama dari yang lainnya? Karena waktu pelaksanaannya, umumnya dilalaikan oleh manusia. Karena itu juga para ulama salaf, seringkali mengisi dan menghidupkan malam di antara Isya sampai Shubuh dengan ibadah, baik berupa shalat, membaca al-Qur’an, dzikir atau yang lainnya. Ketika ditanya alasannya, para ulama salafunas shaleh menjawab: “Karena waktu tersebut adalah waktu yang banyak dilalaikan oleh manusia” (hiya sa’ah ghaflah).

Demikian juga mengapa Rasulullah saw pernah bersabda: “Kalau tidak memberatkan kepada ummatku, akan aku perintahkan mereka untuk mengakhirkan pelaksanaan shalat Isya di akhir malam“, mengapa demikian? Karena waktu akhir malam adalah waktu yang umumnya dilupakan manusia. Ketika waktu tersebut dilupakan dan dilalaikan manusia, maka waktu itu menjadi sangat mulia. Apapun ibadah yang dilakukan di dalamnya, pahalanya lebih besar dari pada pada waktu-waktu lainnya. Demikian juga dengan bulan Sya’ban.

4.      Bulan Sya’ban merupakan bulan Rasulullah saw.

Dalam sebuah hadits Mursal riwayat Imam as-Syuyuthi dalam kitabnya al-Jami as-Shagir, disampaikan ada tiga bulan berurutan yang masing-masing milik pihak-pihak tertentu; Rajab, Sya’ban dan Ramadhan. Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban bulan Rasulullah, dan Ramadhan bulan ummat Rasulullah. Dalam hal ini Rasulullah saw bersabda:
عن الحسن البصري قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((رجب شهر الله, وشعبان شهري, ورمضان شهر أمتي.
Artinya: “Hasan al-Bashri berkata, Rasulullah saw bersabda: “Bulan Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban adalah bulanku, dan Ramadhan adalah bulan ummatku”.
      Hemat penulis, bulan Rajab disebut bulan Allah, karena bulan Rajab termasuk Bulan Haram, di mana tidak diperbolehkan di dalamnya berperang. Bulan itu betul-betul bulan khusus untuk ibadah kepada Allah, berupa mengadakan upacara atau hari raya keagamaan. Sebagaimana sama-sama diketahui, ada empat bulan yang termasuk Bulan Haram, bulan mulia: Rajab, Dzulqa’dah, Dzul Hijjah dan Muharram.

      Disebut Bulan Haram, karena pada keempat bulan tersebut tidak diperbolehkan manusia berbuat aniaya, termasuk berperang, membunuh, satu sama lain. Dan kejahatan yang dilakukan pada bulan tersebut dosanya lebih besar dari pada pada bulan-bulan lainnya. Karena itu, orang-orang Arab sejak dahulu sangat 
menghormati bulan-Bulan Haram ini. Bahkan, apabila ada seseorang yang membunuh ayahnya, saudaranya atau keluarganya pada bulan-bulan Haram ini, mereka tidak melakukan balas dendam.

      Ibnu Hajar dalam Fathul Bari demikian juga dengan Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim, menuturkan di antara alasan mengapa bulan-bulan di atas termasuk bulan-Bulan Haram. Menurutnya, di antaranya karena bulan-bulan tersebut erat kaitan dengan pelaksanaan ibadah haji yang dahulu kala pelaksanaannya memerlukan waktu yang sangat lama. Bulan Dzulqa’dah termasuk Bulan Haram, karena pada bulan tersebut orang-orang berangkat ke Mekkah untuk melaksanakan ibadah haji.

Bulan Dzulhijjah termasuk Bulan Haram, karena bulan tersebut adalah waktu pelaksanaan ibadah haji. Muharram termasuk Bulan Haram, karena pada bulan tersebut jamaah haji pulang menuju kampung masing-masing. Sementara bulan Rajab termasuk Bulan Haram, karena orang-orang Arab dahulu menjadikannya sebagai bulan Hari Raya suci agama-agama. Karena itu, tidak diperbolehkan ada perbuatan-perbuatan yang mengganggu khidmatnya perayaan ibadah dan upacara suci dimaksud.

Dari sini sekali lagi kita dapat mengetahui, bahwa secara umum bulan-Bulan Haram ini erat kaitannya dengan pelaksanaan ibadah haji, dan karenanya, pantas kalau disebut sebagai Bulan Allah.
Sementara mengapa Sya’ban disebut bulan Rasulullah saw, karena pada bulan ini Rasulullah saw melakukan banyak sekali puasa sunnat. Bahkan, dalam sebuah riwayat disebutkan, sebagaimana akan penulis paparkan di bawah nanti, beliau melakukan puasa pada bulan Sya’ban ini seluruh bulan atau sebagian besarnya. Karena itulah Rasulullah saw menyebutnya sebagai ‘Bulanku’.

Sementara Ramadhan disebut bulan ummatku, karena pada bulan ini ummat Rasulullah saw panen dengan pahala. Ibadah apapun yang dilakukan di dalamnya, pahalanya dilipatgandakan dari pada pada bulan-bulan lainnya. Umrah di dalamnya, pahalanya sama dengan melakukan ibadah haji, shalat sunnat yang dilakukan pada bulan Ramadhan, pahalanya sama dengan pahala mengerjakan shalat Wajib, dan pahala shalat wajib dilipatgandakan menjadi tujuh puluh kali lipat dari shalat wajib pada waktu-waktu lainnya. Karena itu, sangat pantas apabila bulan Ramadhan ini disebut dengan bulan ummatku, karena kita selaku ummat Rasulullah saw betul-betul panen pahala dan kebaikan.

5.      Bulan ditaburkannya kemulian (as-Syaraf), derajat yang tinggi (al-’Uluww), kebaikan dan keberkahan (al-Birr), kasih sayang (al-Ulfah) dan cahaya kebenaran (an-Nur).

Imam Abdurrahman bin Abdus Salam ash-Shafury asy-Syafi’i, seorang ulama pada abad kesembilan Hijriyyah, mengatakan dalam bukunya Nuzhatul Majalis wa Muntakhab an-Nafais, bahwa kata Sya’ban (شعبان) itu adalah singkatan. Huruf Syin adalah singkatan dari kata asy-Syaraf  (الشرف)yang artinya kemuliaan. Huruf ‘ain singkatan dari al-’Uluww (العلو) yang artinya derajat dan kedudukan  yang tinggi, terhormat. Huruf ba singkatan dari al-Birr  (البر) yang berarti kebaikan dan keberkahan. Huruf alif berarti al-Ulfah (الألفة) yakni kasih sayang, dan huruf nun singkatan dari an-Nur (النور) yang artinya cahaya kebenaran.

Hal ini menegaskan, lanjutnya, bahwa siapapun yang sungguh-sungguh beribadah pada bulan Sya’ban ini, maka ia akan memperoleh lima hadiah dari Allah di atas, dan hal ini semua karena bulan Sya’ban termasuk bulan istimewa. Mungkin boleh jadi, karena kemuliaan bulan Sya’ban ini juga Siti Aisyah melakukan Qadha puasa Ramadhan di bulan Sya’ban, sebagaimana disebutkan dalam hadits di bawah ini:
عن عائشة قالت: ((كان يكون علي الصوم من رمضان فما أستطيع أن أقضيه إلا فى شعبان)) [رواه البخارى ومسلم
Artinya: Siti Aisyah berkata: “Saya mempunyai hutang puasa bulan Ramadhan, dan saya tidak dapat mengqadhanya melainkan hanya pada bulan Sya’ban” (HR. Bukhari Muslim).

6.      Bulan terjadinya beberapa peristiwa penting dalam Islam.

Bulan Sya’ban juga mempunyai keistimewaan lain, yaitu di dalamnya banyak terjadi peristiwa-peristiwa penting dalam Islam. Di antaranya adalah pengalihan kiblat. Menurut sebagian pendapat, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Hajar dalamFathul Bari, Imam Nawawi dalam Syarah Muslim, bahwa pengalihan kiblat dari menghadap Baitul Maqdis di Palestina menuju Ka’bah di Mekkah, terjadi pada bulan Sya’ban tahun 2 H (atau Pebruari 624 M).

Selain itu, sebaian ulama juga berpendapat, pada bulan Sya’ban juga turun perintah wajibnya puasa Ramadhan kepada Rasulullah saw. Dan pada bulan Sya’ban juga diturunkannya perintah jihad di jalan Allah. Juga pada bulan Sya’ban, menurut sebagian pendapat, turunnya perintah membaca shalawat kepada Rasulullah saw (QS. Al-Ahzab: 56). Empat hal di atas merupakan di antara hal besar dalam ajaran Islam, dan tidak semata-mata Allah menurunkan perintahnya pada bulan tersebut, melainkan bulan dimaksud memiliki keistimewaan tersendiri.

  • Amalan-amalan pada bulan Sya’ban
          Apabila memperhatikan hadits Rasulullah saw, ada satu perbuatan special yang beliau lakukan pada bulan Sya’ban ini, yaitu melakukan puasa sunnat sebanyak mungkin. Namun demikian, mengingat bulan Sya’ban adalah bulan mulia, maka apapun ibadah yang dilakukan di dalamnya, tentu pahalanya sangat besar dan lebih besar dari yang lainnya.

Ibnu Rajab dalam Lathaiful Ma’arif pernah mengatakan, bahwa di antara sebab dilipatgandakannya pahala perbuatan seseorang karena ada tiga, di antaranya adalah karena kemuliaan waktu melaksanakannya (syarafuz zaman). Dan bulan Sya’ban termasuk waktu mulia dimaksud. Untuk itu, berikut ini di antara amalan yang dapat kita lakukan di bulan Sya’ban:

1.      Berdoalah agar diberkahi pada bulan Sya’ban dan dapat mengikuti bulan Ramadhan

Adalah Rasulullah saw, apabila beliau sudah sampai pada bulan Rajab, beliau selalu berdoa sejak bulan tersebut agar dapat bertemu dengan bulan Ramadhan. Hal ini tentunya sebagai rasa kecintaan dan penghormatan untuk bulan penuh berkah ini, Ramadhan. Doa yang biasa dilafalkan oleh Rasulullah saw semenjak bulan Rajab dan Sya’ban adalah:
اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِى رَجَبَ وَشَعْبَانَ, وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ
Allahumma baarik lanaa fi rojab wa sya’ban, wa ballignaa romadhan
Artinya: “Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab, juga di bulan Sya’ban ini serta sampaikanlah usia kami ke bulan Ramadhan”.
Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut ini:
عن أنس بن مالك قال: كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا دخل رجب قال: ((اللهم بارك لنا فى رجب وشعبان, وبلغنا رمضان)) [رواه أحمد والطبرانى والبزار
Artinya: “Anas bin Malik berkata: “Adalah Rasulullah saw apabila beliau memasuki bulan Rajab, beliau suka berdoa: “Allahumma baarik lanaa fi rajab wa sya’ban, wa ballignaa ramadhan (Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab ini, juga di bulan Sya’ban ini serta sampaikanlah usia kami ke bulan Ramadhan)” (HR. Ahmad, Thabrani dan al-Bazzar).
Menurut Imam Abdul Ghani bin Ismail an-Nablusi dalam bukunya, Fadhail al-Ayyaam was-Syuhuur (hal 29) mengatakan, bahwa hadits ini diriwayatkan juga oleh Imam ad-Dailami dalam Musnad al-Firdaus nya, diriwayatkan melalui tiga jalan dari Anas bin Malik. Dan hadits-hadits yang ada dalam kitab Musnad al-Firdaus adalah hadits-hadits dhaif, akan tetapi dapat dilakukan dan diamalkan selama berkaitan dengan bab keutamaan amal perbuatan, Fadhailul Amal.

Imam Nawawi pun dalam pendahuluan Syarah Muslim nya menegaskan, bahwa hadits Dhaif dapat dipakai dalam bab keutamaan amal perbuatan (bab Fadhailul a’maal). Oleh karena itu, sekalipun hadits tentang doa ini dhaif, akan tetapi dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari karena menyangkut keutamaan amal perbuatan.

Doa di atas sebaiknya dibaca berulang kali ketika kita memasuki bulan Rajab dan Sya’ban. Semakin banyak membacanya, tentu semakin besar  pahalanya. Keberkahan di bulan Rajab, keberkahan di bulan Sya’ban, dan dapat menjumpai bulan Ramadhan, merupakan tiga hal yang sangat diharapkan oleh seluruh ummat Islam. Doa di atas juga sebaiknya di baca setiap selesai shalat wajib, atau pada waktu-waktu senggang sambil berdzikir atau selesai membaca al-Qur’an.

Selain doa tersebut, ada doa lain yang biasa dibaca oleh para sahabat pada bulan Rajab dan Sya’ban, sebagaimana disampaikan oleh Yahya bin Abu Katsir, sebagaimana dikutip oleh Ibnu Rajab dalam Lathaiful Ma’arif-nya (hal. 202) yaitu:
اللهم سلمنى إلى رمضان, وسلم لي رمضان, وسلمه منى متقبلا.
Allahumma sallimnii ilaa ramadhan, wa salllim lii ramadhan, wa sallimhu minni mutaqabbalaa.
Artinya: “Ya Allah, selamatkan dan sampaikanlah (usia) saya ke bulan Ramadhan, dan selamatkanlah Ramadhan kepada saya, serta selamatkanlah amalan-amalan saya pada bulan Ramadhan sehingga dapat diterima”.
2.      Rajin berpuasa

Banyak berpuasa sunnat merupakan amalan special Rasulullah saw yang banyak beliau lakukan pada bulan Sya’ban ini. Dalam hadits-hadits di bawah ini disebutkan, bahwa Rasulullah saw berpuasa sunnat pada bulan Sya’ban ini hamper satu bulan penuh:
عن عائشة قالت: ما رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم استكمل صيام شهر قط إلا رمضان, وما رأيته فى شهر أكثر صياما منه فى شعبان [رواه البخارى ومسلم] . وزاد البخارى : كان يصوم شعبان كله
Artinya: “Siti Aisyah berkata: “Saya tidak pernah melihat Rasulullah saw melakukan puasa satu bulan penuh kecuali pada bulan Ramadhan. Dan saya juga tidak pernah melihatnya, sangat banyak melakukan puasa selain pada bulan Sya’ban (HR. Bukhari Muslim), dan dalam riwayat Imam Bukhari disebutkan: “Beliau berpuasa pada bulan Sya’ban satu bulan penuh”.
عن عائشة قالت: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يصوم حتى نقول: لا يفطر, ويفطر حتى نقول: لا يصوم, وما رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم استكمل صيام شهر إلا رمضان, وما رأيته أكثر صياما منه فى شعبان (رواه مسلم)
Artinya: “Siti Aisyah berkata: “Adalah Rasulullah saw seringkali berpuasa, sehingga kami berkata: “Beliau tidak berbuka”. Dan apabila beliau berbuka, kami berkata: “Sehingga ia tidak berpuasa”. Saya tidak pernah melihat Rasulullah saw berpuasa satu bulan penuh kecuali pada bulan Ramadhan. Dan saya juga tidak pernah melihat beliau melakukan puasa sebanyak mungkin kecuali pada bulan Sya’ban” (HR. Muslim).
عن أم سلمة رضي الله عنها عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه لم يكن يصوم من السنة شهرا تاما إلا شعبان, يصله برمضان (رواه أبو داود)
Artinya: “Dari Ummu Salamah, bahwasannya Rasulullah saw tidak pernah berpuasa dalam satu tahun hamper satu bulan kecuali pada bulan Sya’ban dan beliau meneruskannya dengan bulan Ramadhan” (HR. Abu Dawud).
وفى رواية: ما رأيت النبي صلى الله عليه وسلم يصوم شهرين متتابعين إلا شعبان ورمضان (رواه الترمذى والنسائى)
Artinya: Dalam riwayat lain dikatakan: Ummu Salamah berkata: “Saya tidak pernah melihat Rasulullah saw berpuasa dua bulan berturut-turut kecuali pada bulan Sya’ban dan bulan Ramadhan” (HR. Turmudzi dan Nasai).
      Untuk itu sekali lagi, berpuasa pada bulan Sya’ban sangat sebaiknya dalam jumlah yang sangat banyak. Tidak ditentukan tanggal dan harinya, tanggal berapa saja, hari apa saja, baik berurutan ataupun tidak, boleh-boleh saja untuk berpuasa. Bahkan, pahalanya sangat besar, karena bulan Sya’ban termasuk bulan mulia.

3.      Rajin membaca, menelaah dan mentadaburi al-Qur’an.

Membaca al-Qur’an adalah ibadah. Bahkan, pahalanya sangat besar. Dalam sebuah hadits dikatakan, bahwa pahala membaca al-Qur’an itu dihitung bukan persurat atau per ayat, akan tetapi perhuruf. Dan satu kebaikan akan dilipatgandakan menjadi sepuluh pahala bahkan lebih.
Ini artinya, apabila seseorang membaca lafadz basmallah, maka pahalanya bukan satu akan tetapi sembilan belas sesuai dengan jumlah hurufnya. Jika dilipatkan dengan bilangan sepuluh, maka dengan membaca basmallah saja pahala yang sudah dikantongi sebanyak seratus sembilan puluh. Apalagi membacanya setiap hari satu surat atau lebih, tentu pahalanya jauh lebih besar lagi. Dan tentu pahalanya akan lebih berlipat lagi apabila dilakukan pada bulan Sya’ban, karena termasuk bulan mulia. Berikut ini penulis ketengahkan keterangan-keterangan yang erat kaitannya dengan pahala membaca ayat al-Qur’an:
إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ* لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ (فاطر: 29-30)
Artinya:  ”Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri” (QS. Fathir: 29-30).
Demikian juga dengan sabda-sabda Rasulullah saw di bawah ini:
عن عثمان بن عفان أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ((خيركم من تعلم القرآن وعلمه)) [رواه البخارى ومسلم]
Artinya: “Rasulullah saw bersabda: “Orang yang paling baik di antara kalian adalah orang yang belajar al-Qur’an dan orang yang mengajarkan al-Qur’an” (HR. Bukhari Muslim).
عن أبي موسى الأشعرى أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ((مثل المؤمن الذى يقرأ القرآن مثل الأترجة ريحها طيب وطعمها طيب, ومثل المؤمن الذى لا يقرأن القرآن كمثل التمرة لا ريح لها وطعمها حلو)) [رواه البخارى ومسلم]
Artinya: “Rasulullah saw bersabda: “Orang mukmin yang rajin membaca al-Qur’an itu seperti buah utrujjah, bau dan rasa buahnya enak, manis. Sedangkan orang mukmin yang tidak membaca al-Qur’an itu seperti buah kurma, tidak ada wangi aromanya, namun rasanya tetap manis” (HR. Bukhari Muslim).
عن أبي أمامة أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ((اقرأوا القرآن فإنه يأتى يوم القيامة شفيعا لأصحابه)) [رواه مسلم]
Artinya: “Rasulullah saw bersabda: “Bacalah al-Qur’an, karena ia akan menjadi penyelamat bagi yang membacanya kelak di hari Kiamat” (HR. Muslim).
عن أبي هريرة أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ((ما اجتمع قوم فى بيت من بيوت الله يتلون كتاب الله ويتدارسون بينهم إلا نزلت عليهم السكينة وغشيتهم الرحمة وحفتهم الملائكة وذكرهم الله فيمن عنده)) [رواه مسلمٍ]
Artinya: “Rasulullah saw bersabda: “Tidak ada sekelompok orang pun yang berkumpul di dalam rumah Allah, lalu mereka membaca al-Qur’an dan mengkaji serta menelaahnya di antara sesame mereka, kecuali mereka akan diberikan ketenangan, dicurahkan rahmat dan dikelilingi oleh para malaikat, serta Allah akan mengingat orang-orang yang mereka ingat” (HR. Muslim).
عن عبد الله بن مسعود أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ((من قرأ حرفا من كتاب الله فله به حسنة, والحسنة بعشر أمثالهاو لا أقول (الم) حرف ولكن ألف حرف, ولام حرف, وميم حرف)) [رواه الترمذى]
Artinya: “Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang membaca satu huruf dari ayat al-Qur’an, maka pahalanya adalah satu kebaikan. Dan satu kebaikan itu akan dilipatkan lagi menjadi sepuluh kali lipat kebaikan. Saya tidak mengatakan bahwa alif lam mim itu satu hurup, akan tetapi alif itu satu hurup, lam itu satu hurup dan mim itu juga satu hurup” (HR. Turmudzi).
      Para shahabat, tabi’in dan salafunas shaleh, biasa lebih memperketat membaca al-Qur’an sejak bulan Sya’ban, bukan semata pada bulan Ramadhan. Begitu bulan Sya’ban tiba, mereka menutup rumah, merapatkan barisan anggota keluarga untuk lebih rajin membaca al-Qur’an. Karena itu, para ulama menyebut bulan Sya’ban ini sebagai Syahrul Qurra’, bulannya para pembaca al-Qur’an.

Salamah bin Kuhail sebagaimana dikutip oleh Ibnu Rajab, pernah berkata: “Bulan Sya’ban adalah Bulan Para pembaca al-Qur’an (Syahrul Qurra’)”. Habib bin Abi Tsabit, apabila masuk pada bulan Sya’ban, ia berkata: ‘Ini adalah bulannya para pembaca al-Qur’an”.

Amer bin Qais al-Mula’i, apabila masuk pada bulan Ramadhan, ia menutup rumahnya, dan menggiatkan membaca al-Qur’an. Al-Hasan bin Sahl berkata: ‘Bulan Sya’ban pernah berkata: “Ya Allah, Eukau jadikan aku berada di antara dua bulan mulia (Rajab dan Ramadhan), bagaimana dengan aku?” Allah menjawab: ” Saya menjadikan kamu sebagai bulan membacanya al-Qur’an”.

Untuk itu, mari kita sama-sama sejak bulan Sya’ban ini lebih menggiatkan membaca al-Qur’an, menggali isinya dan plus mengamalkan isi kandungannya.

4.      Mengisi malam Nishfu Sya’ban

Di antara hal yang tidak boleh dilupakan dalam bulan Sya’ban adalah menghidupkan malam Nishfu Sya’ban dengan amalan-amalan ibadah, karena malam ini merupakan malam yang sangat istimewa. Dan untuk bahasan masalah malam Nishfu Sya’ban ini berikut amalan-amalan yang sebaiknya dilakukan pada malam tersebut, para pembaca dapat melihat makalah saya yang berjudul: Mengenal Lebih Dekat Malam Nishfu Sya’ban.

5.      Melakukan amalan-amalan lainnya seperti shalat tahajud, Dhuha, Witir dan lainnya.

Hal ini sebagaimana di antara sabda Rasululullah saw:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ أَوْصَانِي خَلِيلِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِثَلَاثٍ بِصِيَامِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَرَكْعَتَيْ الضُّحَى وَأَنْ أُوتِرَ قَبْلَ أَنْ أَرْقُدَ [رواه البخاري ومسلم]
Artinya: “Abu Hurairah berkata: ‘Kekasihku, Rasulullah saw telah berwasiat kepadaku tiga perkara: pertama agar selalu melakukan puasa tiga hari setiap bulan, kedua, agar melakukan shalat Dhuha dua rakaat dan ketiga, agar aku selalu melakukan shala witir sebelum tidur” (HR. Bukhari).
 

Demikian di antara bahasan singkat tentang keutamaan dan amalan-amalan bulan Sya’ban, semoga kita semua diberikan kekuatan untuk melaksanakannya dengan penuh keikhlasan dan memohon ridhaNya, dan semoga Allah memberkahi kita selama bulan Sya’ban ini khususnya dan pada bulan-bulan lain pada umumnya, berkah rizki, berkah umur, berkah keturunan, dan berkah yang lainnya, aminn.

Qatamea, 05 Agustus 2008

Kisah Ashabul Kahfi Yang Tertidur Dalam Goa

Dengan kekuasaan-Nya, Allah Subhanahu wa Ta’ala menidurkan sekelompok pemuda yang berlindung di sebuah gua selama 309 tahun. Apa hikmah di balik ini semua?


Ashhabul Kahfi adalah para pemuda yang diberi taufik dan ilham oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga mereka beriman dan mengenal Rabb mereka. Mereka mengingkari keyakinan yang dianut oleh masyarakat mereka yang menyembah berhala. Mereka hidup di tengah-tengah bangsanya dan tetap menampakkan keimanan mereka ketika berkumpul sesama mereka, sekaligus karena khawatir akan gangguan masyarakatnya. 
Mereka mengatakan:
رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُوْنِهِ إِلَهًا لَقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطا
 “Rabb kami adalah Rabb langit dan bumi, kami sekali-kali tidak akan menyeru Rabb selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang jauh.” (Al-Kahfi:14)

Yakni, apabila kami berdoa kepada selain Dia, berarti kami telah mengucapkan suatu شَطَطًا (perkataan yang jauh), yaitu perkataan palsu, dusta, dan dzalim.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan perkataan mereka selanjutnya:
هَؤُلاَءِ قَوْمُنَا اتَّخَذُوا مِنْ دُوْنِهِ آلِهَةً لَوْلاَ يَأْتُوْنَ عَلَيْهِمْ بِسُلْطَانٍ بَيِّنٍ فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللهِ كَذِبًا
“Kaum kami ini telah mengambil sesembahan-sesembahan selain Dia. Mereka tidak mengajukan alasan yang terang (tentang keyakinan mereka?) Siapakah yng lebih dzalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?” (Al-Kahfi: 15) 

Ketika mereka sepakat terhadap persoalan ini, mereka sadar, tidak mungkin menampakkannya kepada kaumnya. Mereka berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar memudahkan urusan mereka:
رَبَّنَاآتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا
“Wahai Rabb kami, berilah kami rahmat dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami.” (Al-Kahfi: 10)

Mereka pun menyelamatkan diri ke sebuah gua yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala mudahkan bagi mereka. Gua itu cukup luas dengan pintu menghadap ke utara sehingga sinar matahari tidak langsung masuk ke dalamnya. Kemudian mereka tertidur dengan perlindungan dan pegawasan dari Allah selama 309 tahun. Allah Subhanahu wa Ta’ala buatkan atas mereka pagar berupa rasa takut meskipun mereka sangat dekat dengan kota tempat mereka tinggal. Allah Subhanahu wa Ta’ala sendiri yang menjaga mereka selama di dalam gua. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَنُقَلِّبُهُمْ ذَاتَ الْيَمِيْنِ وَذَاتَ الشِّمَالِ
 “Dan Kami bolak-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri.” (Al-Kahfi: 18)
Demikianlah agar jasad mereka tidak dirusak oleh tanah. Setelah tertidur sekian ratus tahun lamanya, Allah Subhanahu wa Ta’ala membangunkan mereka لِيَتَسَاءَلُوا (agar mereka saling bertanya), dan supaya mereka pada akhirnya mengetahui hakekat yang sebenarnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
قَالَ قَائِلٌ مِنْهُمْ كَمْ لَبِثْتُمْ قَالُوا لَبِثْنَا يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ قَالُوا رَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثْتُمْ فَابْعَثُوا أَحَدَكُمْ بِوَرِقِكُمْ هَذِهِ إِلَى الْمَدِْينَةِ
“Berkatalah salah seorang dari mereka: ‘Sudah berapa lama kalian menetap (di sini)?’ Mereka menjawab: ‘Kita tinggal di sini sehari atau setengah hari.’ Yang lain berkata pula: ‘Rabb kalian lebih mengetahui berapa lamanya kalian berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kalian pergi ke kota membawa uang perakmu ini’.” (Al-Kahfi: 19)

Di dalam kisah ini terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah yang nyata. Di antaranya:
  1. Walaupun menakjubkan, kisah para penghuni gua ini bukanlah ayat Allah yang paling ajaib. Karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mempunyai ayat-ayat yang menakjubkan yang di dalamnya terdapat pelajaran berharga bagi mereka yang mau memerhatikannya.
  2. Sesungguhnya siapa saja yang berlindung kepada Allah, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala melindunginya dan lembut kepadanya, serta menjadikannya sebagai sebab orang-orang yang sesat mendapat hidayah (petunjuk). Di sini, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah bersikap lembut terhadap mereka dalam tidur yang panjang ini, untuk menyelamatkan iman dan tubuh mereka dari fitnah dan pembunuhan masyarakat mereka. Allah menjadikan tidur ini sebagai bagian dari ayat-ayat (tanda kekuasaan)-Nya yang menunjukkan kesempurnaan kekuasaan Allah dan berlimpahnya kebaikan-Nya. Juga agar hamba-hamba-Nya mengetahui bahwa janji Allah itu adalah suatu kebenaran.
  3. Anjuran untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat sekaligus mencarinya. Karena sesungguhnya Allah mengutus mereka adalah untuk hal itu. Dengan pembahasan yang mereka lakukan dan pengetahuan manusia tentang keadaan mereka, akan menghasilkan bukti dan ilmu atau keyakinan bahwa janji Allah adalah benar, dan bahwa hari kiamat yang pasti terjadi bukanlah suatu hal yang perlu disangsikan.
  4. Adab kesopanan bagi mereka yang mengalami kesamaran atau ketidakjelasan akan suatu masalah ilmu adalah hendaklah mengembalikannya kepada yang mengetahuinya. Dan hendaknya dia berhenti dalam perkara yang dia ketahui.
  5. Sahnya menunjuk wakil dalam jual beli, dan sah pula kerjasama dalam masalah ini. Karena adanya dalil dari ucapan mereka dalam ayat:
    فَابْعَثُوا أَحَدَكُمْ بِوَرِقِكُمْ هَذِهِ إِلَى الْمَدِيْنَة
    “Maka suruhlah salah seorang di antara kamu pergi ke kota membawa uang perakmu ini.” (Al-Kahfi: 19)
  6. Boleh memakan makanan yang baik dan memilih makanan yang disenangi atau sesuai selera, selama tidak berbuat israf (boros atau berlebihan) yang terlarang, berdasarkan dalil:
    فَلْيَنْظُرْ أَيُّهَا أَزْكَى طَعَامًا فَلْيَأْتِكُمْ بِرِزْقٍ مِنْهُ
    “Hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah dia membawa makanan itu untukmu.” (Al-Kahfi: 19)
  7. Melalui kisah ini kita dianjurkan untuk berhati-hati dan mengasingkan diri atau menjauhi tempat-tempat yang dapat menimbulkan fitnah dalam agama. Dan hendaknya seseorang menyimpan rahasia sehingga dapat menjauhkannya dari suatu kejahatan.
  8. Diterangkan dalam kisah ini betapa besar kecintaan para pemuda yang beriman itu terhadap ajaran agama mereka. Dan bagaimana mereka sampai melarikan diri, meninggalkan negeri mereka demi menyelamatkan diri dari segenap fitnah yang akan menimpa agama mereka, untuk kembali pada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
  9. Disebutkan dalam kisah ini betapa luasnya akibat buruk dari kemudaratan dan kerusakan yang menumbuhkan kebencian dan upaya meninggalkannya. Dan sesungguhnya jalan ini adalah jalan yang ditempuh kaum mukminin.
  10. Bahwa firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
    قَالَ الَّذِيْنَ غَلَبُوا عَلَى أَمْرِهِمْ لَنَتَّخِذَنَّ عَلَيْهِمْ مَسْجِدًا
    “Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata: ‘Sungguh kami tentu akan mendirikan sebuah rumah ibadah di atas mereka’.” (Al-Kahfi: 21)
    Di dalam ayat ini terdapat dalil bahwa masyarakat di mana mereka hidup (setelah bangun dari tidur panjang) adalah orang-orang yang mengerti agama. Hal ini diketahui karena mereka sangat menghormati para pemuda itu sehingga sangat berkeinginan membangun rumah ibadah di atas gua mereka. Dan walaupun ini dilarang –terutama dalam syariat agama kita– tetapi tujuan diceritakannya hal ini adalah sebagai keterangan bahwa rasa takut yang begitu besar yang dirasakan oleh para pemuda tersebut akan fitnah yang mengancam keimanannya, serta masuknya mereka ke dalam gua telah Allah Subhanahu wa Ta’ala gantikan sesudah itu dengan keamanan dan penghormatan yang luar biasa dari manusia. Dan ini adalah ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap orang yang menempuh suatu kesulitan karena Allah, di mana Dia jadikan baginya akhir perjalanan yang sangat terpuji.
  11. Pembahasan yang berbelit-belit dan tidak bermanfaat adalah suatu hal yang tidak pantas untuk ditekuni, berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
    فَلاَ تُمَارِ فِيْهِمْ إلاَّ مِرَاءً ظَاهِرًا
    “Karena itu janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang keadaan mereka, kecuali pertengkaran lahir saja.” (Al-Kahfi: 22)
  12. Faedah lain dari kisah ini bahwasanya bertanya kepada yang tidak berilmu tentang suatu persoalan atau kepada orang yang tidak dapat dipercaya, adalah perbuatan yang dilarang. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan:
    وَلاَ تَسْتَفْتِ فِيْهِمْ مِنْهُمْ أَحَدًا
    “Dan jangan pula bertanya mengenai mereka (para pemuda itu) kepada salah seorang di antara mereka itu.” (Al-Kahfi: 22)
Wallahu a’lam.
(Sumber : Taisirul Lathifil Mannan karya Asy-Syaikh As-Sa’di rahimahullahu )

Catatan : Ketika salah seorang dari 7 pemuda itu terbangun dan merasakan lapar, lalu segera menghampiri pasar untuk membeli makanan. Pedagang dipasar kebingungan saat menerima uangnya. Karena sudah tidak berlaku lagi dan saat itu Raja yang berkuasa juga sudah memeluk agama Islam.

Begini Cara Iblis Sesatkan Kita Dengan Sajadah

DETIK ISLAMI RENUNGAN HARIAN


Assalamualaikum...
Ini adalah sebuah cerita renungan terhadap diri kita
Mudah-mudahan dengan cerita ini dapat mengingatkan diri sendiri ataupun Orang lain.

Tentang cara Iblis menyesatkan manusia menggunakan SAJADAH

Siang menjelang dzuhur . salah satu iblis ada di masjid. Kebetulan hari itu adalah hari Jum'at, saat berkumpulnya orang. Iblis sudah ada di dalam masjid. Ia tampak begitu khusyuk. Orang mulai berdatangan. Iblis menjelma menjadi ratusan bentuk dan masuk dari segala penjuru, lewat jendela, pintu, ventilasi, atau masuk lewat lubang pembuangan air



Pada setiap orang, iblis masuk lewat telinga, ke dalam syaraf mata, ke dalam urat nadi, lalu menggerakkan denyut jantung setiap para jamaah yang hadir. Iblis juga menempel di setiap SAJADAH. "Hai Blis!" panggil seorang Kiai, ketika baru masuk masjid. Iblis merasa terusik dan berkata : "Kau kerjakan saja tugasmu kiai, Tidak perlu kau larang-larang saya. Ini hak saya untuk menganggu setiap orang dalam masjid ini!"

Pak Kiai : "ini rumah ALLAH, blis! Tempat yang suci, kalau kau mau ganggu, kau bisa diluar nanti!" Kiai coba mengusir iblis.

Iblis : "Kiai, hari ini adalah hari uji coba sistem baru". Kiai tercenggung.
"Saya sedang menerapkan cara baru, untuk menjerat kaummu".
"Dengan apa?", tanya kiai.

Iblis : "Dengan sajadah !".

Kiai : "Apa yang bisa kau lakukan dengan sajadah, blis? "

Iblis : "Pertama, saya akan masuk ke setiap pemilik saham industri sajadah. Mereka akan saya jebak dengan mimpi untung besar. Sehingga, mereka akan tega memeras buruh untuk bekerja dengan upah dibawah UMR, demi keuntungan besar!"

Kiai : " Ah, itu kan memang cara lama yang sering kau pakai. Tidak ada yang baru ?"


Iblis : " bukan itu saja kiai, Saya juga akan masuk pada setiap desainer sajadah. saya akan menumbuhkan gagasan, agar para desainer itu membuat sajadah yang lebar-lebar"
Kiai : "Untuk apa ?"


Iblis : "Supaya, saya lebih berpeluang untuk menanamkan rasa egois di setiap kaum yang kau pimpin, Kiai! Selain itu, saya akan lebih leluasa, masuk dalam barisan sholat.
Dengan sajadah yang lebar maka barisan shaf akan renggan.
Dan saya ada dalam kerenganggan itu. dari situ saya bisa ikut membentangkan sajadah".


Dialog iblis dan kiai sesaat terputus. Dua orang datang, dan keduanya membentangkan sajadah. Keduanya berdampingan. Salah satunya, memiliki sajadah yang lebar.
Sementara, satu lagi sajadahnya lebih kecil.


Orang yang punya sajadah lebar seenaknya saja membentangkan sajdahnya, tanpa melihat kanan-kiri. Sementara, orang yang punya sajadah lebih kecil, tidak enak hati jika harus mendesak jamaah lain yang sudah lebih dahulu datang.

Tanpa berpikir panjang, pemilik sajadah kecil membentangkan saja sajadahnya, sehingga sebagian sajadah yang lebar tertutupi sepertiganya

Keduanya masih melakukan sholat sunnah.
"Nah, liat itu kiai !", Iblis memulai dialog lagi
"Yang mana ?", tanya kiai

"Ada dua orang yang sedang sholat sunnah itu, mereka punya sajadah yang bebeda ukuran. Lihat sekarang, aku akan masuk diantara mereka"

Iblis lenyap. Ia sudah masuk ke dalam barisan shaf. Kiai hanya memperhatikan kedua orang yang sedang melakukan sholat sunnah. Kiai akan melihat kebenaran rencana yang dikatakan iblis sebelumnya. Pemilik sejadah lebar ,rukuk, Kemudian sujud. Tetapi sambil bangun dari sujud, ia membuka sajadahnya yang tertumpuk, lalu meletakkan sajadahnya diatas sajadah yang kecil. Hingga sajadah yang kecil berada dibawah sajada yang besar.


kemudian ia berdiri, Sementara, pemilik sajadah yang lebih kecil melakukan hal serupa. Ia juga membuka sajadahnya, karena sajadahnya ditutupi oleh sajadah yang lebih besar. Itu berjalan sampai akhir sholat sunnah.


Bahkan, pada saat sholat wajib juga, kejadiaan itu beberapa kali terlihat di beberapa bagian masjid. Orang lebih memilih menjadi di atas dari pada di bawah. Di atas sajadah saja orang sudah berebut kekuasaan dengan orang lain. Siapa yang memiliki sajadah lebar akan meletakkan diatas sajadah kecil. Sajadah sudah dijadikan iblis sebagai pembedaan kelas.


Pemilik sajadah diidentikan sebagai orang yang memiliki kekayaan, yang setiap saat harus berada diatas daripada yang lain. Sedangkan pemilik sajadah yang kecil, adalah kelas bawah yang setiap saat selalu menjadi sub-ordinat dari orang yang kaya.
Diatas sajadah saja, Iblis telah mengajari orang supaya selalu menguasai orang lain. " ASTAGHFIRULLAHAL ADZIM

SEMOGA KITA LEBIH BIJAK MENGGUNAKAN SAJADAH
YANG KITA MILIKI

Tetap berbagi dengan siapapun apa yang kita miliki, karena semua itu hanya titipan dari ALLAH SWT


"Semakin tinggi tingkat keimanan seorang mukmin maka akan semakin tinggi dan canggih pula godaan yang dilakukan oleh Iblis dan pengikutnya"

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Apakah kalian tidak berbaris sebagaimana berbarisnya para malaikat di sisi Rabb mereka?" Maka kami berkata: "Wahai Rasulullah, bagaimana berbarisnya malaikat di sisi Rabb mereka?" Beliau menjawab: "Mereka menyempurnakan barisan-barisan (shaf-shaf), yang pertama kemudian (shaf) yang berikutnya, dan mereka merapatkan barisan". (HR. Muslim, An Nasa'i dan Ibnu Khuzaimah).

Sumber

Kisah Nabi Nuh AS Dan Kaumnya

Ilustrasi


Kaum Nabi Nuh AS terus-menerus menentang apa yang beliau dakwahkan. Kadar kekufuran, kejahatan, dan pembangkangan mereka, baik dengan perkataan maupun perbuatan sudah mencapai puncaknya. Para orang tua, apabila melihat anaknya sudah beranjak dewasa secepat mungkin berwasiat agar jangan beriman kepada Nabi Nuh AS. Serta hendaklah terus memerangi dan menyelisihi beliau.

Maka lengkap sudah kejahatan dan kesalahan yang terkumpul pada kaum Nabi Nuh AS. Mereka telah kufur dan berbuat kejahatan secara merata. Kaum Nabi Nuh AS benar-benar durhaka sampai mengingkari kerasulan Nabi Nuh AS. Nabi Nuh AS menyimpulkan bahwa pada diri mereka sudah tidak ada harapan kebaikan sama sekali. Maka Nabi Nuh AS berdoa kepada Allah SWT agar memberikan pelajaran setimpal kepada mereka. Allah Ta’ala berfirman:

فَدَعَا رَبَّهُ أَنِّي مَغْلُوبٌ فَانْتَصِرْ
Maka dia (Nabi Nuh) berdoa kepada Robb-nya: ‘Sesungguhnya diriku telah dikalahkan, maka tolonglah (aku).’” (QS. Al-Qomar: 10)

وَقَالَ نُوحٌ رَّبِّ لاَتَذَرْ عَلَى اْلأَرْضِ مِنَ الْكَافِرِينَ دَيَّارًا
(Nabi Nuh) berkata: “Wahai Robb-ku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi.” (QS. Nuh: 26)

Perintah Untuk Membuat Perahu Yang Sangat Besar

Pada akhirnya Allah SWT mengabulkan doa Nabi Nuh AS. Allah SWT mewahyukan kepada Nabi Nuh AS bahwasanya akan menimpakan banjir besar pada kaumnya. Untuk itu Allah SWT memerintahkan kepada Nabi Nuh AS untuk membuat sebuah perahu yang sangat besar. Perahu itu akan memuat Nabi Nuh AS, orang-orang yang beriman, serta beragam makhluk yang mempunyai ruh yang dikehendaki Allah SWT untuk tetap hidup sesudah banjir bandang menimpanya.

Pembuatan perahu yang sangat besar itu bukanlah hal yang sederhana. Allah SWT membimbing dan mengawasi secara langsung akan pembuatannya. Allah SWT menyatakan :
وَاصْنَعِ الْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا وَلاَتُخَاطِبْنِي فِي الَّذِينَ ظَلَمُوا إِنَّهُم مُّغْرَقُونَ
Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku perihal orang-orang yang zalim itu. Sesungguhnya mereka nanti akan ditenggelamkan.” (QS. Hud: 37)

Bentuk Bahtera Nabi Nuh

Ahli sejarah berselisih pendapat tentang panjang dan lebarnya bahtera tersebut. Ada yang menyatakan panjangnya 80 dziro’ dan lebarnya 50 dziro’, ada yang menyatakan panjangnya 300 dziro’ dan lebarnya 50 dziro’. Kalau 1 dziro samadengan 0,5 meter, hitunglah berapa luasnya. Tetapi mereka bersepakat bahwa tingginya 30 dziro.

Perahu itu mempunyai 3 lantai, lantai dasar untuk binatang buas dan merayap, lantai kedua untuk manusia, dan lantai ketiga untuk unggas dan burung-burung. Perahu itu mempunyai pintu yang terletak di tengah dan mempunyai daun pintu yang mengunci rapat dari atas. Di setiap ruas kayu, baik dari dalam maupun luar, dilumuri dengan tir yang berfungsi menahan air agar tidak bisa masuk.

Ketika Nabi Nuh AS memulai membuat perahu yang sangat besar. Kaumnya bukannya makin sadar akan kekhilafan mereka, tetapi malah menjadi-jadi dalam mengejeknya. Allah SWT menceritakan,:


وَيَصْنَعُ الْفُلْكَ وَكُلَّمَا مَرَّ عَلَيْهِ مَلأٌ مِّن قَوْمِهِ سَخِرُوا مِنْهُ قَالَ إِن تَسْخَرُوا مِنَّا فَإِنَّا نَسْخَرُ مِنكُمْ كَمَا تَسْخَرُونَ
Dan mulailah Nabi Nuh membuat bahtera. Dan setiap kali pemimpin kaumnya berjalan melewati Nabi Nuh, mereka mengejeknya. Berkatalah Nabi Nuh, ‘jika kalian mengejek kami maka sesungguhnya kami pun nanti akan mengejek kalian sebagaimana kalian mengejek kami.” (QS. Hud: 38)

Allah SWT menghibur Nabi Nuh AS untuk jangan bersedih hati atas apa yang mereka lakukan. Allah SWT telah memberi kabar kepadanya bahwa sekali-kali tidak akan bertambah orang yang beriman dari kaumnya. Allah SWT menyatakan:

وَأُوحِيَ إِلَى نُوحٍ أَنَّهُ لَن يُؤْمِنَ مِن قَوْمِكَ إِلاَّ مَنْ قَدْ ءَامَنَ فَلاَتَبْتَئِسْ بِمَاكَانُوا يَفْعَلُونَ
Dan diwahyukan kepada Nuh, bahwasanya sekali-kali tidak akan beriman di antara kaummu, kecuali orang yang telah beriman (saja), karena itu janganlah kamu bersedih hati tentang apa yang selalu mereka kerjakan. (QS. Hud: 36)

Ketika Banjir Besar Datang

Setelah pembuatan perahu selesai, datanglah apa yang Allah SWT janjikan kepada Nabi Nuh AS dan kaumnya. Tiba-tiba Allah SWT memerintahkan langit untuk mengguyur bumi dengan air yang deras, disusul bumi agar memancarkan air dari segala penjuru dengan cepat, tungku-tungku tempat perapian pun berubah menjadi mata air yang tak henti-hentinya. Bertemulah sumber air yang melimpah baik dari atas maupun dari bawah.

Allah SWT memerintahkan Nabi Nuh AS agar segera naik perahu beserta orang-orang yang beriman dan keluarganya, dan tidak memberi masa tenggang waktu, barangkali orang-orang yang sebelumnya jelas-jelas tidak beriman mau diajak. Berbagai macam binatang dengan pasangannya berbondong-bondong mengikutinya. Setelah seluruh muatan sudah naik, maka Nabi Nuh AS berkata kepada seisi makhluk yang ada di bahtera tersebut,

وَقَالَ ارْكَبُوا فِيهَا بِسْمِ اللهِ مَجْرَاهَاوَمُرْسَاهَا إِنَّ رَبِّي لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ
Dan (Nabi Nuh) berkata, ‘Naiklah kalian ke dalam bahtera dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuh. Sesungguhnya Robb-ku benar-benar Maha pengampun lagi Mahapenyayang.” (QS. Hud: 41)

Allah SWT memerintahkan mereka untuk berdoa:

فَإِذَا اسْتَوَيْتَ أَنتَ وَمَن مَّعَكَ عَلَى الْفُلْكِ فَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي نَجَّانَا مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ {28} وَقُل رَّبِّ أَنزِلْنِي مُنزَلاً مُبَارَكًا وَأَنتَ خَيْرُ الْمُنزِلِينَ {29}
Segala puji bagi Allah yang menyelamatkan kami dari kaum yang zholim.“Dan katakanlah, ‘Wahai Robb-ku, tempatkanlah kami pada tempat yang diberkati, dan Engkau adalah sebaik-baik yang memberi tempat.” (QS. Al-Mu’minun: 28-29)

Saat itu seisi bumi dipenuhi dengan air, baik gunungnya, bukitnya, padang pasirnya, bagian datarnya dan jurangnya. Kebanyakan para ahli tafsir mengatakan bahwa ketinggian air kala itu di atas permukaan gunung yang paling tinggi 15 dziro.

Bumi saat itu betul-betul tidak bertepi. Semuanya dipenuhi dengan air. Perahu itu melewati ombak yang tingginya bagaikan gunung-gunung. Semua kaum Nabi Nuh AS yang membangkang dibinasakan oleh Allah SWT  hingga tak tersisa seorang pun termasuk anaknya Nabi Nuh AS. Mereka tenggelam bersama pengingkaran terhadap syariat nabi mereka. Mereka tenggelam bersama kesombongan kepada ajaran nabi mereka. Itulah balasan bagi orang-orang yang menentang agama Allah SWT, dan orang yang zholim akan mengalami hal yang semisalnya.

مُّسَوَّمَةً عِندَ رَبِّكَ وَمَاهِيَ مِنَ الظَّالِمِينَ بِبَعِيدٍ
Dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zholim.” (QS. Hud: 83)

Sumber: Majalah Al-Mawaddah, Edisi 11 Tahun ke-1 Jumadal Tsaniyah 1429/Juni 2008

Note : Dari guru ngaji saya, Selama Nabi Nuh AS berdakwah selama 1000 tahun hanya sekitar 70 orang  yang beriman kepada Allah SWT dan mau mengikuti syariat yang dibawa oleh Nabi Nuh AS.